Andromax R boleh dibeli asal…

Punya kesabaran tingkat dewa.. Hehehe..
Review singkat aja soal device top end 4G besutan Smartfren (baca: paling mahal as per Juli 2015).
Max R ini cuma punya 1 keunggulan: speed 4G nya mantap surantap, minimal bisa 20 mbps kalau dapat di frekuensi – TD-LTE 2300 MHz (band 40) kalau di 850 MHz (band 5) minimal bisa 5-7 mbps. Saya bahkan pernah mencapai 80 mbps (lokasi di Karet, Jakpus).

image

Ini sih lebih ke jaringannya Smartfren 4G kali ya bukan smartphone nya, hehhe..
Di luar itu.. Lupakan beli Andromax R bahkan untuk kebutuhan basic tasking sehari2. Kelemahan2nya:
– lag lemot cukup berat bahkan untuk basic tasking seperti email & browsing2 aja apalagi buat social media dan app2 lain
– baterai super boros, dalam 4 jam bisa berkurang 40% padahal hanya standby untuk tethering yang aktivitas client2nya gak banyak
– GPS tidak akurat sama sekali, padahal udah lock (cukup cepat lock nya) pernah pakai untuk menjelajah pantura Jawa, alhasil meleset hingga 1-2 km dr track sebenarnya
– kualitas kamera mediocre, pas2an aja, flash untuk kamera depan lumayan bantu sih
Secara build quality cukup bagus, enak digenggam dan cukup ringan, layar juga sudah IPS dan cukup bagus. Untuk main game ringan cukup enak dan lancar, game berat belum coba sih.
Intinya sih harus punya kesabaran ekstra untuk menangani lag nya Max R ini. Atau saya nya yg gak sabaran ya.. Haha..
Tapi saya jg pernah coba siomay Redmi 2 yg notabene punya spek sama gak segitu lag nya dan baterai jg cukup awet..
Jadi.. Apa yg salah yaa..?

Perbandingan Spesifikasi Motor Sport 150 – 250 cc di Indonesia (Update)

Ada tambahan motor sport lain terbaru yang keluar di 2014, list lengkapnya:

New Vixion Lighting, Honda CB150R, Satria FU 150, Honda Tiger Revo, Kawasaki Pulsar 200NS, Honda CBR250R, Kawasaki Z250SL, Kawasaki Z250 dan Yamaha R25.

Motor 1

Motor 2

 

Sepertinya Yamaha R25 paling unggul dari segi Power to Weight Ratio. Semoga bermanfaat, thanks.

 

Perbandingan Spesifikasi Motor Sport di Indonesia

Perbandingan Spesifikasi Motor Sport di Indonesia

Ini perbandingan spesifikasi antara Kawasaki Pulsar 200NS, Yamaha New Vixion Lighting, Honda CB150R, Satria FU 150, Honda CB250R, Honda Tiger Revo biar penyimak gampang ngeliatnya satu2 antara item spesifikasi-nya, kalau ada kekurangan atau kesalahan mungkin bisa dishare di bagian comment.
Terus terang, aku lagi pengen move on dari FU150 yang udah 7 th setia menemani dan berhubung sekarang2 ini sudah mulai rewel mulu dan jajannya mulai mahal, makanya ada niat pengen move on.. hehehe..

(REVIEW) Soundmagic E10

IEM dengan clarity mantab & deep bass

Saya memang sebetulnya tidak berencana beli E10 ini, tp begitu lihat di Bh****ka HR harganya bisa di bwh 300 saya langsung putuskan untuk membelinya (soalnya sebelumnya pernah baca2 TrustedReviews & What Hi-fi kalo IEM ini bagus untuk low budgeters).

Secara build quality, E10 mayan oke (plastik keras dengan warna mengkilat) tetapi menurut sy msh kalah roboust dengan sennheiser CX-300 ataupun CX-400II yg saya punya jg. Designnya mayan oke (sy suka ada guratan merah yg bedain L & R -nya, sama bentuk peluru-nya :p). Oh ya, eartip-nya banyak pilihan (dr kecil sampe gede) dan cukup nyaman digunakan dalam jangka waktu lama.

Yang penting di-review adalah kualitas suara yg menurut sy sih sangat subyektif tergantung user-nya. Menurutku sih E10 punya bass besar yg deep tp gak begitu punchy (lebih punchy CX-400II) dengan highs yg sangat oke, staging-nya & clarity-nya surprisingly oke (bahkan CX-400II aja kalah). Range low sampai highs bisa terdefinisi dengan baik, cuma menurutku agak kurang di low-mid, ada bbrp detail kurang bisa muncul. Saya review ini setelah melakukan burn-in lebih dari 40 jam. Dan musik yg digunakan rata2 MP3/AAC dengan kualitas 320 kbps dari berbagai macam musik (mostly electronic genre & subgenre-nya). E10 cocok buat musik apapun karena range-nya luas dan rata tapi kalau untuk musik elektronik jika didengerin pake E10 dalam jangka waktu lama akan lumayan bikin pening dan capek telinganya karena highs-nya lumayan nusuk (ini menurut kuping saya ya :p).

Kesimpulannya untuk harga 300-an E10 sangat layak untuk dibeli, dengan harga segitu bisa nandingin IEM2 lain dengan harga 2x lipatnya (spt CX-400II atau CX-300II atau Klipsch S4)
Semoga bisa membantu (kuping saya kuping pemula bukan kuping emas :p). Terima kasih.

Perbandingan Tarif Data/Internet Operator Lokal di Indonesia

Iseng-iseng bikin perbandingan tarif data/internet operator lokal di Indonesia, update terakhir di Januari 2012, semoga membantu.

Ini untuk yang pake sistem kuota:

Ini yang pake unlimited dengan FUP:

Perbandingan di atas cuma semata-mata membandingkan tarif saja (mengabaikan unsur speed up/down load yg didapat). Thanks

(REVIEW) Beats by Dr Dre Tour (OEM/Grade A++/Non-KW whatever Version)

Aku mau coba ikutan review earphone in-ear keluaran Monster, Beats by Dr Dre Tour (versi OEM/grade A++ atao apalah itu & yg pasti gak Genuine n gk pake control talk/CT). Barang ini aku beli sekitar 1 bulan (nov-11) yg lalu dari seller di kaskus dengan harga IDR 150K. Tadinya sih pengen cari gantinya Sennheiser CX-300 yg diminta sama adik, yaitu CX-400II Precision, nah tapi berhubung harganya masih agak mahal, masih mikir2 lagi untuk beli itu. Iseng2 searching nemu deh ni Tour.

Di bawah gambarnya nih :

  • Build/Material Quality
    • Cheap plastic dari ujung ke ujung, what can you expect from non-genuine item?
    • Durability kurang oke. Housing speakernya baru 2 hari pake waktu nyabut dari kuping udah kebelah di bagian belakang tulisan “L” (earphone sebelah kiri) dan harus tak lem biar kenceng lg
    • Some people jg ngeluh kualitas material build-nya kaco
  • Kelengkapan
    • Mayan komplit, dapet clip, silicon ear bud cadangan ada 3 pasang & dompet bullet
  • Kualitas Audio
    • Kasar dan jelek banget waktu awal buka dus, aku hampir minta refund ke seller-nya. Setelah cari referensi sana sini, memang semua in-ear phone dynamic wajib di-burn in agar keluar karakter aslinya.
    • Karena aku sukanya kebanyakan music yg basisnya adalah elektronik, maka proses burn in make semua genre dari elektronik (House, Dubstep, DNB, Nu jazz, Electronic, etc)
    • Setelah melakukan burn-in selama kurang lebih 30 jam, hasilnya lumayan mengejutkan, yg awalnya kualitas audio-nya kaya sampah sekarang jadi bener2 jauh lebih baik,
    • Memang ni Tour suaranya sangat2 Bass-head determine (untuk kebanyakan orang mungkin akan dirasa berlebihan tp gak mendem/muffled kok suara bass-nya)
    • Vocal-range freq juga oke banget but you can’t expect too much on high-treble frequency. Sound staging juga mayan, walopun kadang2 sering tubrukan antara di mid-freq. High treble freq susah sekali untuk diliat. Suara2 instrumen misalnya kaya hihat atau dry-ride dari cymbal, maracas, tamborine gak terdefinisi dengan baik walopun sebenernya masih wajar

The final words adalah untuk harga IDR150K, Tour emang lumayan worthed untuk pecinta musik elektronik,bass-head type & R&B/Hip-Hop, tapi buat pecinta musik akustik full-band lupakan saja, pasti akan kecewa.. seperti yg sudah tak jelaskan di atas, hi-freq susah terdefinisi dengan baik. In my personal opinion aku bisa ngasi nilai 7/10.
Terus terang aku belum pernah nyoba yang aslinya, tapi kalo menurut review2 untuk Tour genuine karakternya jg hampir sama yaitu bass determined. Review ini bersifat relative dari pandanganku, karakter yang diinginkan setiap orang memang berbeda2, setidaknya syukur2 bisa bantu untuk mendapatkan pencerahan sedikitšŸ˜€. Sori sebelumnya, kalo review-nya kurang bagus maklum lagi coba2 review nih, hehe.